formats

Rambu-Rambu Memilih Mainan si Kecil!

Published on May 17, 2012 by in Mainan Edukasi

Rambu-Rambu Memilih Mainan si Kecil!

By Mainan Edukasi

MAINAN adalah benda yang tak terpisahkan dari anak-anak. Ya, dunia bermain memang dunia mereka!
Sebagai orangtua yang memfasilitasi kebutuhan si kecil, Moms sebaiknya tak sekadar membelikan mainan edukasi saja, lho! Anda perlu tahu jenis, manfaat, serta aturan lainnya.
- Pilih mainan sesuai tahap perkembangan anak, baik usia, emosi dan fisiknya. Jika mainan terlalu rumit, malah nantinya anak bisa stres. Sebaliknya, mainan edukasi yang terlalu mudah pun tak membawa manfaat bagi mereka.Hal utama dalam memilih adalah benda yang dapat merangsang semua panca indranya (mata – melihat, hidung – mencium, telinga – mendengar, lidah – merasa/mengecap, dan kulit – meraba). Semakin banyak panca indra digunakan, sel-sel otak anak akan lebih banyak berkembang dari segi kualitas dan jumlahnya.- Utamakan Keselamatan. Apapun yang bisa dipegang oleh tangan bayi pasti akan berakhir di mulutnya. Maka pastikan mainan tidak mengandung bagian-bagian kecil yang dapat tertelan oleh bayi.
Setelah itu pastikan warna mainan edukasi tidak mengandung zat-zat beracun yang membahayakan bayi. Mainan bayi seharusnya tidak mudah rusak/pecah. Karena mainan yang pecah dapat meninggalkan potongan-potongan tajam yang bisa melukai bayi Anda, atau bahkan mungkin mencelakai Anda.- Ingat Moms! Jenis mainan edukasi yang baik akan mencantumkan label peringatan bahwa alat itu dirancang untuk anak usia tertentu.

Usia 0-6 Bulan:

• Mainan yang digantung. Mainan ini dapat merangsang indra penglihatan bayi, warnanya yang cerah disertai bunyi akan membuat bayi memusatkan perhatian dan fokus pada mainan.
• Mainan untuk digigit (theeter). Bayi secara naluriah akan memasukkan benda ke dalam mulut dan menggigitnya. Kegiatan ini dapat merangsang indra pengecap bayi.
• Mainan karet atau berbahan lembut. Meski belum mampu memegang secara sempurna, namun mainan yang ringan dan empuk ini sebaiknya dimiliki. Tujuannya untuk merangsang indra peraba bayi.
• Gelang gemerincing. Mainan ini merupakan salah satu favorii sepanjang masa. Dapat melatih koordinasi panca indra bayi.

Usia 10–12 Bulan:

• Mainan yang bisa didorong-dorong (truk-trukan/mobil-mobilan). Benda ini memberi kesempatan pada anak untuk mengasah keterampilan barunya, yakni berjalan.

• Bola. Bila Moms mengajaknya si kecil bermain bola sambil berdiri, tentu semakin menarik perhatiannya.
• Telepon-teleponan. Belikan mainan ini agar anak bisa berimajinasi lewat kata-kata yang belum jelas terucap dan bermain dengan tombol nomornya. Semakin terlihat asli bentuk telepon, semakin baik.

• Buku–buku. Pada tahap ini, rasa ingin tahu anak sangat besar. Sediakan buku – buku berjenis ‘flip & flap’ di dalamnya. Misal ada kandang ayam yang bisa dibuka pintunya dan lain-lain.
• Mainan Edukasi Balok-balok. Mainan ini memberi kesempatan bagi si kecil untuk melatih seni menumpuk. Ia mungkin bisa menumpuk sekaligus tiga balok atau empat, dan jatuhnya balok-balok tersebut akan memberinya kepuasan tersendiri.

Usia 2-5 tahun:

- Mainan Edukasi Perkakas (Kitchen Set). Ada yang berupa martil, tang, kompor, panci, gelas dan sejenisnya. Mainan tersebut merangsang perilaku imitatifnya (meniru) terhadap perilaku orang dewasa.
- Tea Set atau Rumah-rumahan. Jenis ini akan merangsang daya imajinasi si kecil. Mereka akan meniru perilaku orang dewasa yang sedang meminum teh, mulai dari meracik hingga menyajikannya. Atau mencoba menata furnitur rumah (mini) sesuai ‘selera’ mereka.
- Alat Musik Mini. Umumnya anak-anak sangat menyukai musik. Berikan gitar mini, keyboard mini, drum mini, dan sebagainya.

- Puzzle. Benda tersebut merupakan salah satu cara terbaik untuk memberi kepuasan tersendiri pada si kecil. Mampu mencocokkan susunan potongan gambar sesuai tempatnya adalah kesenangan luar biasa. Pilihlah jenis puzzle yang memiliki corak sederhana dan mudah ditempelkan.

Di area bermain, Moms harus…

- Memastikan alat bermain terlihat bersih, periksa apakah ada bagian yang rusak. Bila Anda mendapati beberapa mainan  rusak, misalnya tali ayunan hampir putus atau pegangan pada jungkat-jungkit tak ada lagi, hindari menggunakan mainan itu. Ajak si kecil memilih mainan lain yang kondisinya layak. Tentu Anda perlu melaporkan kepada pengelola perihal tersebut.
- Mengawasi anak. Jika tempat bermain sangat ramai dan Anda tidak bisa benar-benar memantau, kembalilah lain waktu.

- Mengamati anak-anak lain. Misalnya balita dibiarkan tanpa pengawasan, sedangkan ada anak yang lebih besar asyik bermain di dekatnya dengan kecepatan tinggi, tentu ini membahayakan.

Artikel Yang Berhubungan :

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Upaya Pengembangan Kreativitas dan Kemampuan Otak Sejak Usia Dini

Published on May 17, 2012 by in Mainan Edukasi

Upaya Pengembangan Kreativitas dan Kemampuan Otak Sejak Usia Dini

Anak-anak pada usia dini perlu mendapatkan perhatian sungguh dari semua pihak. Anak pada usia dini sebagai usia dimana anak belum memasuki suatu lembaga pendidikan formal seperti SD dan biasanya mereka tetap tinggal di rumah atau mengikuti kegiatan dalam bentuk berbagai lembaga pendidikan pra sekolah seperti kelompok bermain, taman kanak-kanak dan taman penitipan anak. Ciri anak usia dini mengacu pada teori Piaget dapat dikatakan sebagai usia yang belum dapat dituntut untuk berpikir secara logis (tahapan operasional) yang ditandai dengan pemikiran seperti : Berpikir secara konkrit, dimana kemampuan representasi simbolik yang memungkinkan seseorang untuk memikirkan hal abstrak (seperti cinta atau keadilan) belum dapat dipahaminya. Realisme, yaitu kecenderungan yang kuat untuk menanggapi segala sesuatu sebagai hal yang riil atau nyata Egosentris, yaitu melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri dan tidak mudah menerima penjelasan dari sisi lain Kecenderungan untuk berpikir secara sederhana dan tidak mudah menerima sesuatu yang majemuk Animisme yaitu kecenderungan untuk berpikir bahwa semua obyek di lingkungannya memiliki kualitas kemanusiaan sebagaimana yang dimiliki anak Sentrasi yaitu kecenderungan untuk mengkonsentrasikan diri hanya pada satu aspek dari suatu situasi Anak usia dini dapat dikatakan memiliki imajinasi yang amat kaya dan imajinasi ini sering dikatakan sebagai awal munculnya bibit kreatifitas pada mereka Pada usia dini anak masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan dalam segi termasuk otaknya. Otak merupakan pusat dari intelegensi pada anak. Koestler telah mengemukakan suatu teori tentang istilah belahan otak kiri dan kanan yang tugas dan fungsi, ciri dan responnya berbeda terhadap pengalaman belajar, meskipun tidak dalam arti mutlak. Respon kedua belahan otak ini tidak sama, dan menuntut pada pengalaman belajarnya.

Antara Otak Kanan dan Otak Kiri

Seorang anak secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut intelegensi yang bersumber dari otaknya. Kalau struktur otak telah ditentukan secara biologis, berfungsinya otak tersebut sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya.Otak tersebut terdiri dari dua belahan otak (kiri dan kanan) yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpus callosum. Kedua belahan otak tersebut berfungsi tugas dan responnya berbeda dan seharusnya tumbuh dalam keseimbangan.Pada anak-anak usia dini, maka program yang dilakukan seharusnya adalah upaya memaksimalkan pengembangan otak kanan anak. Hal ini disebabkan bahwa belahan otak kanan lebih banyak berfungsi untuk mengutamakan respon yang terkait dengan persepsi holistik, imajinatif, kreatif dan bisosiatif. Hal ini berbeda dengan otak kiri yang lebih bertugas untuk menangkap persepsi kognitif serta berpikir secara linier, logis, teratur dan lateral. Biasanya fungsi otak kiri lebih pada bidang pengajaran yang verbalistis dengan menekankan pada segi hapalan dan persepsi kognitif saja.Untuk itulah guna mengefektifkan otak kanan anak sejak usia dini maka diperlukan “experiental learning” (belajar berdasarkan pengalaman langsung) untuk anak-anak usia dini guna lebih mengefektifkan fungsi divergennya (dimana anak-anak dibiasakan untuk selalu memberikan ide dan alternatif yang tidak homogen). Hal ini akan berdampak pada anak yang kreatif, suka berpikir beda dan penuh ide.

Ciri-ciri Anak Yang Otak Kanannya Mempunyai Kemampuan LebihAda beberapa ciri yang bisa dilihat pada anak usia dini yang dipercaya sebagai tanda-tanda positif untuk anak yang kreatif. Kemampuan motorik yang lebih awal seperti kemampuan untuk berjalan, memanjat, memakai baju dan sepatu ataupun menyuapi diri sendiri Anak mampu bicara dengan kalimat yang lengkap, kosa kata yang banyak, daya ingat yang baik dan menunjukkan keinginan yang kuat untuk belajar dan hasrat yang besar terhadap buku ataupun gambar-gambar Membandingkan dengan anak yang lainnya. Biasanya akan terlihat dari kecenderungannya untuk menyukai permainan yang merangsang daya khayalnya Adanya daya ingat yang baik, kemampuan coba-salah dan mempu menyenangi dirinya (bersibuk diri) dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana kita dapat mengoptimalkan kemampuan otak kanan anak kita sejak usia dini. Ada beberapa motede yang dapat dipakaiantara lain dengan bermain musik, bermain, menggambar, dan lain-lain.

Upaya Meningkatkan Kemampuan Otak Anak

Beberapa metode telah dikembangkan oleh para ahli dalam upaya meningkatkan kemampuan otak kanan sejak anak usia dini.

  1. Bermain Musik Salah satunya adalah metode bermain musik oleh Carl Orff (1895) seorang komponis dan pendidik dari Jerman. Bermula dari pengalaman mengelola sekolah musik dan senam, ia mengadakan eksperimen untuk mengaitkan antara musik dan gerak. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa musik pendidikan tidak dapat diberikan pada anak usia dini secara tertutup tapi melalui integrasi antara musik dan gerak. Metode Orff berprinsip bahwa antara bunyi, instrumen, ucapan, kata, kalimat bersajak, cerita dan gerakan tubuh ada dalam satu keutuhan untuk mencapai kesatuan yang harmonis. Orff instrumen sebagai alat-alat musik adalah unik karena merupakan alat musik pukul yang bernada maupun tak bernada. Berdasarkan penelitian ternyata anak di usia dini lebih menyukai Orff instrumen karena alat musik tersebut bagi mereka merupakan suatu bentuk permainan yang memungkinkan mereka untuk bereksplorasi sejauh mungkin terhadap bunyi. Di Indonesia dapat ditemukan seperti angklung, kulintang, calung, kotekan, tambur atau gong. Anak juga dapat bereksplorasi musik dengan botol ditiup, dipukul, sapu, sikat, kentongan dan kertas digetarkan.
  2. Kreativitas Anak Melalui Gambar, Rhoda Kellog seorang peneliti dan pengarang buku “The Psychology of Children’s Art” dari Amerika Serikat yang menghimpun tidak kurang dari 1 juta gambar anak dari berbagai usia, tingkatan sosial dan kebangsaan di 31 negara dari 5 benua dalam jangka 20 tahun telah menghasilkan beberapa hasil analisanya.Diungkapkannya bahwa setiap anak mulai awal pertumbuhannya (pada usia dini) biasanya memulai dengan periode coreng moreng (sobbling period) sampai akhirnya anak-anak mulai mengembangkan daya ciptanya. Bagi seorang anak menggambar merupakan bentuk permainan yang sebenarnya akan mengasah kemampuan otak kanannya. Ucapan Picasso mungkin harus menjadi renungan kita, “Orang dewasa sebaiknya jangan mengajar anak-anak untuk menggambar, sebaiknya orang dewasalah yang harus belajar dari anak-anak”.  
  3. Alat Permainan Edukatif, Selain musik, upaya pengembangan otak kanan juga dapat dilakukan dengan bermain dengan Alat Permainan Edukatif (APE). Sebetulnya apa itu fungsi alat bermain bagi anak usia dini?. Mainan sekarang ini yang semakin kreatif, mahal dan beraneka macam. Tentunya hal ini akan banyak membuat orang tua bingung. Banyak mainan yang dibuat oleh pabrik yang sebetulnya kurang berfaedah bagi anak-anak karena sebenarnya alat bermain hanyalah alat bantu saja bagi seorang anak dan bukan merupakan indikator mutlak untuk anak berkembang lebih baik. Jadi mahal dan murahnya alat mainan bukanlah merupakan indikator. Anak akan dapat bermain dengan manfaat yang besar apabila orang tua dapat mengetahui sisi kegunaannya mainan tersebut.

Ada mainan anak yang disebut APE atau Alat Permainan Edukatif yaitu, golongan mainan yang bersifat edukatif atau dapat memenuhi syarat sebagai perangsang bagi anak untuk terjadinya proses belajar anak. Cirinya adalah: Dapat merangsang anak secara aktif berpartisipasi dalam proses, tidak hanya diam secara pasif melihat saja Bentuk mainan tersebut biasanya “unstrusure” sehingga dimungkinkan bagi anak untuk membentuk, merubah, mengembangkan sesuai dengan imajinasinya Dibuat dengan tujuan atau pengembangan tertentu, sesuai dengan target usia anak tertentu.Selain faktor tersebut diatas, harus dilihat usia anak kita. Untuk itu harus dipilih jenis mainan yang diperlukan bagi anak kita. Misalnya pilihlah mainan anak yang dapat mengembangkan motorik kasar bagi perkembangan kritis kemampuan berjalan, misalnya mainan yang ditarik.Salah satu kriteria mainan itu adalah dicantumkan petunjuk mainan tersebut untuk mengembangkan fungsi apa dan juga disertai rekomendasi bagi usia berapa, menginat ada bahaya yang siap mengancam anak-anak kita.Secara teoritis kita dapat membagi aktivitas anak dalam bermain ini menjadi 4 macam yaitu :

  1. Bermain fisik, merupakan kegiatan bermain yang berkaitan dengan upaya pengembangan aspek motorik anak seperti berlari, melompat, memanjat, berayun-ayun
  2.  Bermain kreatif, merupakan bentuk bermain yang erat hubungannya dengan pengembangan kreatifitas seperti menyusun balok, bermain dengan lilin atau pasir, melukis dengan jari dan sebagainya
  3. Bermain imajinatif merupakan kegiatan bermain yang menyertakan fantasi anak seperti bermain sandiwara dimana anak dapat mengembangkan imajinasi dengan peran yang berbeda-beda
  4. Bermain manipulasi, merupakan kegiatan bermain yang menggunakan alat tertentu seperti gunting, obeng, palu, lem, kertas lipat dan sebagainya untuk mengembangkan kemampuan khusus anak.Bermain yang menyenangkan bagi anak ini kan memberikan rasa aman dan bebas secara psikologis, suatu kondisi yang amat dibutuhkan bagi upaya pengembangan kreatifitas anak. Disamping itu, bermain yang merupakan kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan guna menemukan sesuatu dengan cara baru, memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat mengekspresikan dorongan kreatifnya.

Perenungan

Banyak kekhawatiran dan ketidak mengertian orang tua yang kadangkala menjadi bumerang bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya sejak usia dini. Keinginan orang tua yang harus dilakukan oleh anak-anak, tidak jarang membuat anak-anak di usia dini sudah menjadi orang dewasa mini. Hal ini tidak lain karena orang tua yang terlalu khawatir dengan pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Sifat over protektif juga kadang sering menghambat kemampuan anak sejak dini berkembang.Bahkan kadangkala orang tua seringka kali takut dengan IQ. Mereka sering kali bertanya apakah anak yang kemampuan otak kanannya lebih terasa IQnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain ? Pertanyaan ini sebetulnya mudah dijawab, karena menurut penelitian Terman 1 – 2 % anak yang seperti itu memiliki IQ tinggi yaitu 140. Namun orang tua sekarang juga harus ingat, bahwa tidak hanya IQ yang akan menentukan keberhasilan anak-anak kita. Kemampuan EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient) dan yang paling akhir adalah ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) ternyata lebih menunjang di kemudian hari. Hal ini berarti orang juga harus tetap mendidik anak-anak sejak usia dini dengan tidak meninggalkan komunitas, lingkungan keluarga, belajar dan bermain serta meningkatkan kesadaran anak terhadap fitrah manusia sejak dini (God Spot) yang berarti anak tidak terlepas dari asas hubungan antar manusia, lingkungan dan Tuhannya

Akhirnya kita berharap anak Indonesia masa adalah anak-anak yang kreatif, penuh ide, tidak terlepasdari hubungan antar manusia, lingkungan dan Tuhannya. Bila hal itu dilakukan, kiranya akan tumbuh anak-anak kreatif yang mampu memiliki berbagai visi dan wawasan dalam pengembangan pribadi yang utuh dan bermanfaat bagi dirinya di kelak kemudian hari.

 

Artikel Yang Berhubungan  :

 

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Panduan Memilih Mainan Anak

Published on May 17, 2012 by in Mainan Edukasi

Panduan Memilih Mainan Anak

By Mainan Edukasi

Sudah berapa kotak mainan anak anda? Atau mungkin malah lebih dari dua keranjang besar yang sudah memenuhi kamar si kecil. Anak-anak dan mainan memang tidak bisa dipisahkan, toh dunia anak juga dunia bermain. Namun bukan berarti agar dianggap sebagai orang tua yang perhatian anda harus membelikan segala macam mainan yang diminta si kecil. Jaman sekarang ketelitian dan perhatian orang tua harus ekstra, juga dalam hal menentukan mainan apa saja yang layak untuk si buah hati. Dan ingat layak juga bukan berarti harus mahal.

Mungkin sepertinya berlebihan, namun apa salahnya jika sedikit cerewet dan ekstra hati-hati demi keamanan  dan kenyamanan si kecil, karenan justru itu yang tidak bisa dibeli dengan harga murah. Banyaknya mainan yang ditawarkan di toko-toko seringkali membuat orang tua terlena, atau mungkin malah anda sering terbujuk oleh pramuniaga toko mainan yang menawarkan produk-produk terbaru dari toko mereka. Produk-produk yang ditawarkan mungkin tidak buruk, namun tidak ada salahnya jika anda menanyakan detail produk, material ataupun bahan cat yang digunakan di produk tersebut kepada pramuniaga toko yang bersangkutan.

Perhatikan juga hal-hal kecil, seperti bentuk mainan. Mainan yang terlalu kecil mungkin bukan pilihan bijak untuk balita, mengingat mereka sering kali memasukkan apapun kedalam mulut. Bagian-bagian mainan yang mudah patah atau lepas akan sangat berbahaya bagi balita. Mainan-mainan edukatif yang berbau science mungkin terlihat menarik bagi anda, dengan pertimbangan akan banyak manfaatnya. Namun sesuaikan juga dengan usia anak anda, mainan seperti ini sangat cocok untuk anak usia sekolah dasar, karena tidak jarang menggunakan bahan-bahan yang mengandung bahan kimia yang tidak aman untuk anak usia pra sekolah. Dan tentunya juga harus dengan pengawasan orang tua atau orang dewasa selain orang tua.

Sekarang ini banyak mainan anak yang juga mempunyai nilai-nilai edukatif. Bahkan bisa menjadi media pembelajaran alternative bagi si kecil. Mainan edukatif dengan warna-warna cerah jelas akan menarik perhatian anak. Dan tanpa disadari mereka juga melatih kemampuan mereka. Keuntungan ganda bagi semua orang tua. Anak riang, orang tua pun senang melihat perkembangan si kecil.

 

Bermain adalah salah satu aspek penting dalam tumbuh kembang anak. Layaknya orang dewasa, bermain adalah “pekerjaan” bagi si kecil. Kegiatan bermain adalah media anak untuk belajar tentang dunia dan lingkungan sekitarnya. Mereka belajar mengembangkan berbagai macam keterampilan dari jenis permainan yang dimainkan.Orang tua mesti selektif dan cermat dalam memilih mainan untuk anaknya. Mainan anak sebaiknya tidak ditujukan untuk kesenangan semata, melainkan mempunyai unsur edukatif. Pemberian mainan mesti disesuaikan dengan usia anak agar mainan tersebut dapat memberikan dampak edukatif yang tepat sesuai perkembangan si kecil. Dari aspek keamanan, orang tua juga perlu teliti membaca label kategori usia yang tertera pada mainan yang akan dibeli untuk menghindarkan si kecil dari resiko kecelakaan permainan, misalnya tertelan mainannya.Berikut adalah panduan dalam memilih mainan sesuai usia anak.
Usia < 12 bulan

Jarak penglihatan dan kemampuan motoriknya masih terbatas. Di usia ini, kita perlu memberikan mainan yang merangsang panca inderanya. Pada usia sebelum 6 bulan, berikan mainan yang digantung dengan warna cerah dan kontras. Stimulasi indera pendengarannya melalui musik berirama lembut. Ketika dia mulai memasuki usia 6 bulan ke atas, dia mulai mengembangkan kemampuan motoriknya. Anda sudah bisa memberikannya mainan untuk dipegang. Pastikan mainannya bersifat non-toksik dan lembut karena pada usia ini anak akan memasukkan apa saja ke dalam mulutnya untuk digigit, contohnya: boneka berbunyi, gelang gemerincing atau mainan karet berbahan lembut.

Usia 1-2 tahun

Berikan mainan yang merangsang kemampuan daya pikir dan motoriknya lebih jauh lagi. Di usia ini, dia mulai berceloteh, mulai melangkah dengan kaki dan memindahkan benda-benda di sekitarnya. Berikan mainan yang ukurannya lebih besar agar dia tidak dapat memasukkan atau menelan mainan ke dalam mulutnya. Contoh mainan yang dapat diberikan: balok-balokan, bola, buku audio, dan puzzle sederhana.
Usia 3-4 tahun

Anak menjadi semakin kreatif. Dia mulai mengamati kegiatan orang dewasa di sekitarnya dan tindak tanduknya mulai meniru kebiasaan mereka. Dia mulai berkreasi dan berimajinasi sendiri. Berikan mainan yang bersifat “profesi” misalnya mainan perkakas ( kitchen set atau alat pertukangan), alat musik mini, rumah-rumahan, buku gambar, krayon dan mobil-mobilan.
Usia 5-6 tahun
Di usia pra-sekolah ini, anak-anak mulai diarahkan ke arah permainan yang bersifat problem solving untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya. Berikan permainan yang lebih rumit, melibatkan angka dan huruf dan permainan di luar rumah. Contohnya: monopoli, puzzle yang lebih rumit, jam mainan, dan mainan berhitung sejenisnya.

Artikel Yang Berhubungan  :

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Motivasi Belajar Melalui Mainan

Published on May 17, 2012 by in Mainan Edukasi

Motivasi Belajar Melalui Mainan

By Mainan Edukasi

Contoh Alat permainan Edukatif. Dengan Puzzle jari tangan ini diharapkan anak dapat mengetahui nama-nama jari (ibu jari, telunjuk, tengah, manis, kelingking) dan dapat menyusun dengan menempelkannya secara berurutan.

Setiap anak sangat suka bermain. Bagi si kecil, kegiatan ini bukan sekadar bersenang-senang. Lebih dari itu, bermain sangat bermanfaat untuk membantu tumbuh-kembangnya agar lebih optimal.

Seperti bekerja bagi orang dewasa, bermain adalah pekerjaan bagi anak. Melalui bermain, si kecil belajar tentang dunia dan sekelilingnya. Ia memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan dan mengembangkan keterampilan, nilai, sikap, toleransi serta pemahaman. Bermain pun menjadi cara untuk mengeskpresikan perasaan dan emosi, lebih cepat dibandingkan menyampaikan ekspresi secara verbal. Sebagai alat untuk bermain, pemilihan mainan dan materi bermain sangat penting agar manfaatnya optimal. Mainan melimpah tak ada gunanya jika mainan tidak memiliki nilai edukatif. Artinya, mainan tersebut memberikan kenikmatan bermain sekaligus peluang belajar. Mainan ini dirancang khusus untuk mendorong anak menemukan hal baru atau menguasai keterampilan dan konsep tertentu. Namun tidak berarti pula Anda harus menjejali si kecil dengan mainan edukatif. Mainan jenis ini hanya salah satu faktor pendukung untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak. Si kecil pun perlu bermain dengan mainan ‘biasa’. Misalnya boneka, mobil-mobilan, rumah-rumahan, atau alat rumah tangga mainan. Meskipun bukan tipe edukatif, mainan ini bisa memberikan pengetahuan baru untuk melengkapi kecerdasan majemuk anak. Bermain boneka, misalnya, mendorong kemampuan berimajinasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Sesuai usia anak

Lima tahun pertama merupakan periode emas perkembangan otak anak. Pada masa itu, ia membutuhkan banyak stimulasi. Semakin banyak stimulasi yang diberikan, hubungan koneksi antarsaraf semakin banyak. Artinya, anak semakin cerdas. Salah satu bentuk stimulasinya mainan. Anda bisa memberikan mainan sejak dini namun tak berarti sejak bayi. “Orangtua adalah alat permainan bayi. Artinya, bayi lebih baik bermain dengan orangtuanya,” jelas Dra Mayke S. Tedjasputra, Msi, psikolog dari Fakultas Psikologi UI. Anda boleh mengenalkan mainan edukatif sejak anak berusia 1-1,5 tahun. Pada usia ini, si kecil sudah mampu memahami sebuah konsep meskipun kemampuan berbicaranya belum jelas.Yang perlu Anda perhatikan ketika memilih mainan adalah kesesuaian mainan dengan usia anak. Usia menunjukkan tahap perkembangan si kecil, baik fisik maupun mental. Mainan yang terlalu sulit membuat anak frustasi. Sebaliknya jika terlalu mudah, mainan tidak lagi menarik bagi si kecil. Misalnya, single puzzle atau bola/kubus yang memiliki lubang berbentuk kotak, lingkaran atau segitiga. Mainan ini sesuai untuk anak usia 1 tahun. Untuk mempermudah Anda memilih mainan, beberapa produsen mainan mencantumkan kategori usia di setiap kemasan mainan.

Perhatikan kesiapan anak
Meskipun anak usia 1 tahun mulai berkenalan dengan mainan edukatif, Anda tidak boleh memaksakan kehendak. “Setiap anak berbeda-beda,” terapis bermain ini mengingatkan. Ada yang sudah siap dan menyukai mainan, ada pula yang tidak. “Prinsipnya, kegiatan bermain tidak membuat anak merasa terpaksa atau dipaksa. Sebab, dampaknya sangat buruk bagi perkembangan anak,” tambah Mayke.Beberapa anak memiliki gerakan motorik yang lebih kasarnya. Artinya, ia lebih menyukai aktivitas fisik seperti melompat, memanjat, jongkok atau lari. Jika si kecil dipaksa untuk bermain yang membutuhkan motorik halus dan konsentrasi, ia belum cukup matang walaupun usianya sama. “Orangtua harus peka melihat kesiapan anak untuk bermain,” tandas Mayke. Anak yang siap biasanya langsung tertarik dan mencoba memainkan begitu mainan diberikan. Sedangkan anak yang belum siap tampak tidak tertarik ketika mainan disodorkan kepadanya. Perhatikan pula kondisi anak apakah ia mengantuk, sakit atau bosan.Se-edukatif apapun sebuah mainan, tidak akan berguna jika tidak dimainkan. Bisa jadi tujuan edukasinya malah tidak tercapai. Jika anak-anak tidak menyukai dan menikmati mainannya, ia tak akan pernah memainkannya. Padahal, kemampuan belajar anak meningkat ketika ia bisa menikmatinya. Karenanya, jangan melupakan faktor ‘menyenangkan’ dari sebuah mainan. “Anak juga perlu diberi kesempatan untuk melakukan aktivitasnya,” tutur Mayke.Mainan hanyalah alat. Keterlibatan Anda dalam proses bermain anak memainkan peran penting, tetapi bukan mengaturnya. Biarkan anak mencoba dulu. Jika ia tidak juga mengerti atau bingung, Anda cukup memberikan petunjuk. “Orangtua hanya menjadi pijakan, anak yang harus mencari jalan keluarnya,” jelas Mayke. Petunjuk Anda membantu anak mengembangkan imajinasinya. Selain itu, Anda dan si kecil memiliki peluang untuk menciptakan kenangan masa kecil yang indah.

Tak ada mainan, permainan jadilah
Mainan edukatif tak harus mahal. Bermain juga tidak berarti harus ada alat-alat khusus. Permainan bisa menjadi alternatifnya. Melalui alat-alat sederhana di sekitar rumah dan sedikit kreativitas, ciptakan permainan atau mainan yang mendorong tumbuh-kembang si kecil. Misalnya permainan petak umpet menggunakan kolong meja atau membuat pesawat dari kertas.Permainan yang mahal, seperti computer games, justru tidak membawa manfaat. Jenis permainan ini disebut sebagai pemicu agresivitas pada anak. Sebab, computer games umumnya membawa nilai-nilai kekerasan dan membuat anak menjadi anti sosial. Pun dengan mengajak anak bermain di mal. Menurut Mayke, kebiasaan ini hanya akan mendorong sifat konsumerisme pada anak.

Ciri-Ciri Mainan Edukatif

  • Dibuat untuk merangsang kemampuan dasar pada balita.
  • Memiliki banyak fungsi. Artinya, ada beberapa variasi mainan di dalam satu mainan sehingga stimulasi yang diperoleh anak pun beragam.
  • Mendorong kemampuan pemecahan masalah. Contohnya mainan bongkar-pasang.
  • Melatih ketelitian dan ketekunan anak. Tak sekadar menikmati, tetapi si kecil juga dituntut ketelitiannya saat memainkannya.
  • Melatih konsep dasar. Artinya, anak-anak bisa mengenal dan mengembangkan kemampuan dasar seperti bentuk, warna, tekstur, besaran. Selain itu, mainan edukatif mampu melatih motorik halus.
  • Merangsang kreativitas anak. Anak-anak semakin kreatif melalui variasi mainan yang dilakukan.

Artikel Yang Berhubungan  :

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Mengasah Otak Anak Dengan Puzzle

Published on May 17, 2012 by in Uncategorized

Mengasah Otak Anak Dengan Puzzle

By Mainan Edukasi

      Masa balita merupakan masa yang penting bagi perkembangan otak anak. Untuk itu para orang tua harus dapat membantu merangsang perkembangan otak sang anak dengan memberikan pembelajaran melalui cara yang menyenangkan dan tidak membosankan. Salah satunya dengan permainan puzzle.

Puzzle yang pertama kali dipopulerkan oleh John Spilsbury pada tahun 1760 ini ternyata sangat bermanfaat bagi anak-anak. Hampir semua Taman Kanak-Kanak (TK) dan kelompok bermain (playgroup) menggunakan puzzle untuk sarana belajar dan bermain. Selain mengasah keterampilan anak, puzzle juga bermanfaat untuk :

  • Meningkatkan keterampilan kognitif Keterampilan kognitif berhubungan dengan kemampuan untuk belajar dan memecahkan masalah. Melalui puzzle, anak-anak akan mencoba memecahkan masalah yaitu menyusun gambar menjadi utuh. Dengan sedikit arahan dan contoh dari Anda, sang anak sudah dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya dengan cara mencoba menyesuaikan bentuk, menyesuaikan warna, atau logika. Misalnya, ia memasangkan warna merah dengan warna merah lagi. Lalu memasang puzzle bergambar kaki atau roda selalu di bagian bawah puzzle.
  • Meningkatkan keterampilan motorik halus Keterampilan motorik halus berhubungan dengan kemampuan anak menggunakan otot-otot kecilnya khususnya jari-jari tangannya. Untuk itu anak usia di bawah tiga tahun (batita) direkomendasikan untuk diberikan permaian puzzle untuk mengasah kemampuan motorik halusnya.
  • Melatih kemampuan nalar Puzzle yang berbentuk manusia akan melatih nalar anak-anak. Melalui puzzle ini mereka akan menyimpulkan di mana letak tangan, kaki, dan lain-lain sesuai dengan logika. Anda juga dapat memberikan bantuan jika anak kebingungan.
  • Melatih kesabaran Puzzle dapat melatih kesabaran anak dalam menyelesaikan sesuatu dan berpikir dahulu sebelum bertindak.
  • Pengetahuan Melalui puzzle, anak akan belajar banyak banyak hal. Mulai dari warna, bentuk, jenis hewan, buah-buahan, sayuran, dan lainnya. Pengetahuan yang ia dapatkan dari sebuah permainan biasanya akan lebih mengesankan bagi anak dibandingkan pengetahuan yang ia dapatkan dari hafalan. Namun kegiatan bermain sambil belajar ini tentunya harus selalu mendapatkan bimbingan Anda.
  • Meningkatkan keterampilan sosial Puzzle dapat dimainkan lebih dari satu orang dan jika puzzle dimainkan secara berkelompok maka dapat meningkatkan interaksi sosial anak. Dalam kelompok, anak akan saling menghargai, saling membantu dan berdiskusi untuk menyelesaikan masalah. Anda juga dapat menemai anak saat bermain puzzle dan memberikan arahan untuk menyelesaikan puzzle.

Artikel Yang Berhubungan :

 

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Memilih Mainan Si Kecil

Published on May 17, 2012 by in Uncategorized

Memilih Mainan Si Kecil

By Mainan Edukasi

Anak-anak usia 5 tahun biasanya dalam keseharian tidak pernah lepas dari mainan. Sebagai orang tua, terkadang kita tidak terlalu peduli dengan mainan apa yang diminta anak kita, pokoknya anak kita minta kita beli, apalagi kalau mintanya sambil merengek-rengek. Atau terkadang kita membelikan mainan untuk anak kita hanya dengan melihat penampilan fisik tanpa mempedulikan apakah ada manfaatnya atau tidak.

Padahal usia 5 tahun pertama adalah usia yang sangat menentukan bagi seorang anak. Usia ini biasa disebut dengan Golden Age atau usia emas. Mengapa disebut Usia Emas? hal ini dikarenakan pada usia itu aspek kognitif, fisik, motorik, dan psikososial seorang anak berkembang secara pesat. Nah untuk itu diperlukan stumulasi-stimulasi yang mampu mengoptimalkan seluruh aspek tersebut agar seorang anak kelak juga mampu menjadi pribadi yang matang sehingga kelak mampu menjadi pribadi yang matang, bertanggung jawab, mampu menghadapi segala permasalahan dalam hidupnya.

Salah satu cara mengoptimalkan kemampuan kognitif, fisik, motorik, dan psikososial seorang anak adalah dengan menstimulasi nya, salah satu alat ataupun sarana menstimulasinya adalah dengan mainan ataupun permainan.

Pada dasarnya mainan mempunyai manfaat antara lain:

  • Untuk mengoptimalkan perkembangan fisik dan mental anak.
  • Memenuhi kebutuhan emosi anak
  • Mengembangkan kreatifitas dan kemampuan bahasa anak.
  • Serta membantu proses sosialisasi anak.

Selain itu dalam memilih mainan paling tidak ada 2 hal yang perlu diperhatikan (Fawzia aswin dosen UI):

  • Mainan yang baik itu punya manfaat tertentu sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak
  • Mampu membuat anak asyik dan aktif bermain yang meliputi, barangnya awet, aman (tidak mengelurkan suara yang keras dan tidak ada bagian yang mudah tertelan atau terhisap, tidak tajam, tidak menjepit, tidak menimbulkan api dan tidak beracun).

Memilih mainan buat si kecil ternyata gampang-gampang susah, apalagi yang beredar di pasaran jenisnya macam-macam. Untuk itu diperlukan sikap hati hati dan bijaksana. Pertanyaannya kemudian jenis mainan macam apa yang cocok untuk usia tertentu??

Untuk memilih mainan yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak, bisa dibagi menjadi 3:

1. Mainan untuk tahap sensorik motorik (0-2 th)

Pada tahap ini anak sudah bisa menikmati gerakan demi gerakan, dalam taraf belajar menguasai dan mengkoordinasikan ketrampilan motorik halus dan motorik kasar. Dalam bermain anak mulai mempraktekan dan mengendalikan gerakanya serta menggali pengalaman dengan penglihatan, suara, sentuhan (tahap bermain penguasaan/mastery play).

Jadi sejak usia 2-3 bulan ketika anak sudah mulai bisa diajak berkomunikasi atau bereaksi terhadap keadaan sekitarnya (ex:gerakan tangan atau permainan mimic sang ibu)maka anak sudah bisa diberi mainan.

Pada tahap ini mainan sebaiknya yang tahan banting, tidak mudah tertelan, mengandung unsur warna tapi tidak beracun, bisa di gigit-gigit, di banting, di putar2x atau di pukul2x.

Mainan yang bisa mengembangkan sensorik, merangsang gerakan dan konsentrasi mata serta belajar menggapai dan mengenalkan warna ex: mainan yang digantung di boks dengan berbagai warna.

Mainan yang bisa membantu perkembangan motorik halus dan kasar, mainan yang bisa membuat anak menggerakkan seluruh anggota badan., ex:motorik halus=bola, kantong berisi biji-bijian, kardus dengan berbagai ukuran etc, motorik halus=lilin (was), air, pasir, pazel sederhana.

Selepas ini perkembangan anak tidak berhenti sampai disini, maka perlu diperkaya lagi sesuai dengan perkembangan kemapuan motoriknya tersebut misalnya dengan sepeda roda tiga, menyusun manik etc.

2. Mainan tahap pra operasional (2-7th)

Pada tahap ini anak sudah menggunakan symbol dan bermain mempelajari bahasa dan belajar membuat sesuatu, ex: Anak usia  3th,lebih suka bermain dalam kelompok kecil dan mempelajari kehidupan dengan permainan berpura-pura (make belive play) anak juga mulai dapat mengucapkan kalimat sederhana tentang sesuatu yang dilihatnya dalam gambar dan bertanya jawab oleh karena itu diperlukan orang tua yang mau bercerita pada anak soal apa saja yang di lihat di dengar bahkan yang dirusaknya.

Selain itu pada tahap ini anak mulai mempraktekan beberapa ketrampilan barunya seperti menamai, mencocokan, menebak, atau membandingkan.

Anak juga menyukai aktifitas fisik, bergerak kesana-kemari untuk mengembangkan motorik kasar dan halus seperti belajar masuk, keluar, naik turun.

Anak mulai memerlukan neteri kreatif maka diperlukannya alat-alat bermain yang bersifat edukatif (APE), contoh:

Untuk mengenalkan pada alam bisa dengan: kaca pembesar, air, pasir, tempat makan burung, berbagai daun dan bunga dan mainan yang berasal dari alam.

Untuk mengenal penjumlahan bisa dengan: papan dengan kartu nomor, wadah dengan berbagai bentuk dan ukuran, benda-benda kecil untuk di hitung, atau kertas/gambar bertuliskan angka.

Untuk mengenalkan panca indera bisa dengan : mainan yang berbau, bisa dicium, bisa juga dari makanan yang memiliki aneka rasa(manis, asam , asin), kotak berlubang untuk meraba benda di dalamnya.

3. Mainan untuk tahap operasional (7th > )

Pada tahap ini diperlukan mainan yang yang menumbuhkan atau mengembangkan kretifitas dan sosiali anak, untuk itu bisa diberikan mainan yang sifatnya manipulatif seperti : mainan seni : lilin (was), kertas yang disertai lem (kolase=menempel), cat air, cat tangan etc, Seni musik     : instrument musik bikinan sendiri, mengenal bentuk dan ukuran: kubus, kerucut, tabung, binatang, orang-orangan, rumah besrta perabotnya. Mengenalkan kendaraan: kereta dari kulit jeruk etc

Agar kreatifitas anak tumbuh dan berkembang harus pula diciptakan pola bermain dalam satu kesatuan dengan keluarga yaitu bisa dengan mengajak anak2x secara bersama-samaa bermain yang melibatkan proses kreatif (ex membuat kue, berkebun etc). Mainan yang melatih proses bersosialisasi seperti dakon (congklak), lempatan, kelereng, bentik.

PENTINGNYA PERAN ORANG TUA

Peran mainan dalam perkembangan anak sebenarnya cuma sebagai alat bantu bukan sebagai pengganti peran orang tua. Di satu pihak mainan itu penting bagi si anak tapi di lain pihak mainan bukan segala-galanya buar anak (kak seto).

Jadi dalam bermain sebetulnya anak tetap memerlukan pendamping namun keterlibatan orang tua secara berlebihan juga kurang baik sebab tujuan memberikan mainan malah tidak tercapai.

# Yang namanya alat bermain tidak harus mainan, bahkan buku pun bisa dijadikan sebagai alat bermain missal di susun2x menjadi terowongan. Setelah anak senang maka citra buku akan jadi positif sehingga mulailah anak lihat gambarnya lalu ortu membacakannya sehingga lama-lama I kecil akan senang membaca.

# Mainan untuk balita tidak terlalu memperhatikan gender karena seiring dengan perkembangan secara alamiah akan tau sendiri.

# Mainan yang berteknologi canggih yang harganya mahalpun tidak tidak perlu terlalu dicurigai seperti mainan video game dll, juga punya sisi baik yaitu melatih koordinasi otot mata dan tangan , pemecahan masalah (strategi) karena didalamnya bisa mengembangkan kemampuan kognitif anak, maksutnya anak di tuntutmengatur strategi untuk menyelesaikan permaian dengan baik, walaupun mainan ini sangat kurang dalam sisis soaial atao kurang melatih anak untuk bersosialisasi.

# Ada baiknya ortu juga berkompromi dengan anak dalam memilih mainan yang di berikan benar-benar bisa dipakai bermain dan bermanfaat dan dijelaskan pada anak mengapa mainan yang diminta naka tidak diberikan sehingga anak diajak bernalar.

 

Artikel Yang Berhubungan  :


 

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Fakultas Psikologi Unair Dirikan PAUD Anak Ceria

Published on May 17, 2012 by in Mainan Edukasi

Fakultas Psikologi Unair Dirikan PAUD Anak Ceria

By Mainan Edukasi

Pendidikan anak menjadi salah satu fokus bagi orang tua untuk memajukan anaknya. Banyak orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik bagi buah hatinya. Dalam hal ini, sebagai salah satu lembaga pendidikan di Indonesia, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya telah mengembangkan salah satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai salah satu alternatif orang tua dalam menyekolahkan anaknya.

Gedung PAUD Anak Ceria ini diresmikan oleh Rektor Universitas Airlangga, Prof. Dr. H. Fasich Apt, pada tanggal 27 Juli 2007. Sebelumnya, pihak Fakultas Psikologi UNAIR pun telah mengelola penitipan anak Airlangga, dan mengelola anak kelompok bermain (playgroup). setelah sukses mengelola kedua hal tersebut, pihak Unair kemudian memutuskan untuk mendirikan PAUD Anak Ceria ini. Lokasi gedung PAUD Anak Ceria ini terletak di Kampus B Unair di JL. AIrlangga 8 Surabaya.

Penanggung jawab PAUD Anak Ceria, Nur Ainy Fardana S.Psi., M.Si mengatakan bahwa pembangunan PAUD ini dikarenakan karena kebutuhan anak-anak dalam usia kelompok bermain (playgroup) yang sudah menginjak usia TK. Pendirian PAUD Anak Ceria ini juga merupakan sebuah bentuk kerjasama antara Dharma Wanita Persatuan Universitas Airlangga dengan Fakultas Psikologi Unair. Pengawas dan pembimbingnya pun berasal dari mahasiswa tingkat akhir fakultas psikologi Unair itu sendiri.

Sampai saat ini, PAUD Anak Ceria telah membuka kelas kelompok anak bermain (playgroup) dan kelompok TK. Tak hanya itu, kurikulum yang diterapkan pun tidak hanya merujuk pada kurikulum baku Dirjen PAUD, tetapi juga menekankan kepada dasar pembinaan psikologi anak. Pola yang diterapkan pun berbeda, yakni bermain sambil belajar. Karena itu, PAUD Anak Ceria ini tidak menyediakan bangku-bangku seperti di sekolah pada umumnya, melainkan menyediakan berbagai macam mainan yang dapat merangsang perkembangan anak-anak.

PAUD Anak Ceria ini juga menyisipkan pendidikan inklusi bagi para siswanya. Sekolah ini juga tidak membedakan antara anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan anak yang normal. Pada tahun 2007, di kelompok TK yang terdiri dari 18 peserta didik, terdapat 2 ABK yang menderita gangguan pendengaran dan gangguan konseptual motorik. Menariknya, perkembangan kedua anak ABK ini sangat optimal. Bahkan tak jarang, tenaga pendidik sulit membedakan antara mereka dengan siswa lain yang normal. Pembelajaran bagi kedua anak ini pun tidak dibedakan. Tujuannya, agar mereka mampu belajar dan bermain bersama anak-anak normal lainnya. Hal ini diterapkan agar sang anak mampu menerima perbedaan sejak usia dini. Jadi, tidak akan sulit bagi anak-anak normal untuk menerima teman-teman mereka yang mengalami gangguan perkembangan. Sampai saat ini, PAUD Anak Ceria memiliki 24 siswa di kelas kelompok bermain (playgroup), dan 40 siswa di kelompok TK. Dengan adanya PAUD Anak Ceria ini, diharapkan Unair mampu menyumbangkan sistem pendidikan yang terpadu bagi anak-anak sejak usia dini.

Artikel Yang Berhubungan  :

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Mainan Edukasi Wire Game

Published on May 11, 2012 by in Mainan Edukasi

Mainan Edukasi Wire Game

By Mainan Edukasi

Apa itu Wire Game ?

Wire Game adalah salah satu jenis mainan , untuk usia 2,5 – 6 tahun, yang terbuat dari kawat, balok, dan cincin berbagai bentuk dan warna. Sang pemain, diharapkan dapat menyelesaikan permainan dengan memindahkan dan mengarahkan balok dari satu sisi ke sisi yang lain melewati kawat yang telah didesain berbentuk meliuk-liuk menyerupai lilitan dan rintangan.

Pada saat bermain, pemain dituntut untuk bisa mengarahkan balok yang akan dipindahkan. Secara tidak langsung, maka gerak mata dan tangan harus diserasikan, harus berkonsentrasi untuk dapat melewati kawat

Jadi, apa saja manfaat dari mainan ini ?

1. Dengan memindahkan balok, anak mengetahui berbagai jenis bentuk dan warna;

2. Dengan memindahkan balok melewati kawat yang meliuk-liuk, anak akan terlatih untuk lebih luwes menggunakan tangannya;

3. Dengan memindahkan balok, anak terlatih menyerasikan gerakan tangan dan mata;

4. Dengan memindahkan balok, anak akan berusaha berkonsentrasi dan bersabar, agar berhasil memindahkan dan menyelesaikan permainan.

Artikel Yang Berhubungan  :

 

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Biarkan Mereka bermain mainan Edukasi

Published on May 11, 2012 by in Mainan Edukasi

Biarkan Mereka Bermain Mainan Edukasi

By Mainan Edukasi

Judul Buku    : Inspiring Education Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD): Collection of True Stories
Penulis     :Lara Fridani& APE Lestari
Penerbit         :PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia (Diterbitkan pertama kali tahun 2009)
Halaman         : 132 halaman
Jika dahulu kebanyakan orang kurang menyadari pentingnya pendidikan anak usia dini atau PAUD, beberapa tahun terakhir ini guru dan orangtua mulai menyadari  pentingnya masa keemasan anak tersebut. Masa keemasan atau golden age (0-8 tahun) sebagai masa yang tepat untuk mengenalkan ilmu dan nilai-nilai moral pada anak.
Tetapi, kenyataannya masih ada salah persepsi tentang PAUD. Masih banyak yang beranggapan bahwa tujuan PAUD adalah mempersiapkan anak masuk SD. Karena itu, seringkali kita melihat anak-anak yang seharusnya masih menikmati masa bermain, dipaksa untuk belajar membaca, menulis, menghitung (calistung). Yang ditekankan hanya aspek akademis, sementara aspek psikososial tidak diperhitungkan. Lalu, apakah calistung tidak penting?
Di buku ini digambarkan bahwa calistung tetap perlu diajarkan, tetapi di usia emas ini (0-8 tahun) banyak yang harus diperhatikan dalam proses pendidikan anak usia dini, baik bagi orang tua maupun guru.
Kita seringkali melihat betapa orangtua di jaman sekarang, karena kesibukannya, cenderung menyerahkan pendidikan pada pihak sekolah, terlebih jika sekolah tersebut diklaim sebagai sekolah favorit. Padahal peran utama dalam pendidikan anak tetaplah pada orang tua. Lalu, menyoal sekolah favorit, banyak orangtua mengatakan suatu sekolah sebagai sekolah favorit hanya karena tampilan fisik, fasilitas dan uang pangkal padahal yang harus diutamakan tetaplah KENYAMANAN si anak berada di sekolah itu. Jika memang si anak belum siap, ya jangan dipaksakan hanya demi gengsi.
Lalu betapa seorang ibu mengeluh karena si anak lebih dekat dengan pengasuhnya ketimbang dengan ibunya yang karena keadaan harus bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Ini masalah klasik dan memang tidak bisa dipungkiri tingginya biaya hidup menyebabkan banyak perempuan memutuskan untuk bekerja. Di sini dijelaskan bahwa di usia dini kualitas dan kuantitas interaksi antara anak dan orangtua akan sangat mempengaruhi ikatan emosional mereka. Fasilitas, uang memang penting, tetapi anak membutuhkan lebih dari itu.
Kisah menarik juga dapat dibaca tentang bagaimana menjawab pertanyaan kritis anak-anak. Pertanyaan yang terkesan sederhana, remeh tetapi tetaplah tidak mudah untuk menjawabnya, seperti ada anak yang bertanya mengapa warna kulit orang berbeda, mengapa ada bunga yang berwarna merah ada juga yang kuning. Perlu skill tersendiri untuk menjawab pertanyaan kritis dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.
Buku ini sangat berguna sebagai panduan bagi guru PAUD, psikolog anak dan orangtua karena tidak hanya berisi teori, tetapi dari kisah-kisah nyata ini juga terdapat beragam tips yang bermanfaat bagi orangtua dan guru dalam menyikapi masalah yang ditemui dalam pendidikan anak usia dini.

 

Artikel Yang Berhubungan  :

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Belajar Menulis dengan Mainan Edukasi

Published on May 9, 2012 by in Mainan Edukasi

Belajar Menulis Dengan Mainan Edukasi

By Mainan Edukasi

Permainan maze bisa menjadi media untuk membantu anak lancar menulis. Bermain maze mendorong sang anak untuk menggunakan otot-otot kecil di jarinya.

Pada permainan maze konvensional menggunakan gambar kertas, untuk tahap pertama, minta anak untuk menggunakan jarinya menelusuri jalur maze. Berikutnya, perlahan-lahan ajarkan anak untuk menggunakan krayon, pensil atau spidol.
Anda bisa membuat sendiri Maze sederhana untuk permainan si kecil.
Sumber gambar : [1]

Anda juga bisa menggunakan maze dari papan kayu (wooden maze) untuk membuat anak lebih tertarik memainkannya. Maze jenis ini terdiri atas lajur maze yang sudah dilengkapi manik warna-warni. Anak dapat diajarkan untuk menggunakan jemarinya saat mengelompokkan manik-manik dengan warna yang sama. Selain berlatih melemaskan otot jari, anak dapat diajarkan untuk mengenal konsep warna.
Wooden maze memiliki warna-warni ceria dan dilengkapi manik-manik

Selain maze, permainan lain yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan menulis anak adalah Dot-to-dots (menghubungkan titik).

Contoh permainan Dot-to-Dot yang dapat Anda ambil gratis di [3]
Sumber gambar : [3]

Pada umumnya, sisi edukasi mainan jenis ini berfungsi untuk :
•    Memperhalus gerakan tangan
•    Dapat memperbaiki tulisan dan gambar anak
•    Melatih mengelompokkan
•    Memperkuat konsentrasi
•    Melatih menyelesaikan masalah (problem solving)

 

Artikel Yang Berhubungan  :

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments